Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar Pasukan Nasi Bungkus

Kemiskinan masih menjadi isu penting bagi Indonesia dalam menyejahterakan rakyatnya. Polemik dunia perpolitikan seperti dipenuhi dengan pencarian solusi atas masalah kemiskinan. Penyebab adanya kemiskinan salah satunya adalah karena tingginya tingkat pengangguran di Indonesia. Keterbatasan lapangan kerja dengan pembengkakan pelamar kerja berjumlah tidak berimbang. Oleh karena itu, perluasan jumlah lapangan kerja saat ini menjadi fokus bagi pemerintah untuk menekan angka kemiskinan.

Kewirausahaan atau entrepreneurship dapat menjadi salah satu jawaban atas masalah pengangguran. Pembengkakan atas pelamar kerja perlu dipangkas dengan adanya ketersediaan lapangan kerja baru. Entrepreneurship secara langsung membutuhkan tenaga kerja sehingga mampu mengurangi tingkat pengangguran. Selain itu, entrepreneurship menanamkan pola pikir pada masyarakat untuk menciptakan lapangan pekerjaan (to create jobs) dibandingkan dengan mencari pekerjaan (to seek a job). Dengan berkembangnya pola pikir ini maka kebutuhan akan lapangan pekerjaan akan semakin menurun dan ketersediaan lapangan pekerjaan akan semakin meningkat. Terjawabnya masalah pengangguran nantinya akan berdampak pula pada masalah kemiskinan di Indonesia.

Tapi, emangnya entrepreneurship aja cukup? Seiring berkembangnya zaman, kompleksitas masalah kehidupan semakin beragam. Munculnya masalah-masalah sosial baru seperti kesenjangan sosial, keterbelakangan, dan lainnya menjadi tantangan baru yang harus diberantas. Tahukah kamu? Terkadang kegiatan ekonomi entrepreneurship mendatangkan dampak negatif bagi sekitar lho, contohnya adalah adanya kerusakan lingkungan. Entrepreneurship yang dirasa kurang berdampak positif secara sosial akhirnya mengalami perkembangan. Sociopreneurship merupakan pengembangan lebih lanjut dari kewirausahaan yang berfokus pada pemecahan masalah sosial. 

Sebelum adanya pandemi, angka pengangguran di Indonesia tercatat mengalami penurunan dengan kontribusi terbesar berasal dari tumbuhnya sociopreneurship. Wow, hebat bukan? Muhammad Hanif Dhakiri, Menteri Tenaga Kerja RI periode 2014-2019, menyampaikan bahwa sociopreneurship dapat menjadi agen perubahan dan memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Menariknya, penggerak sociopreneurship di Indonesia rupanya didominasi oleh generasi milenial. Tidak heran jika banyak output dari sociopreneurship berupa produk sosial yang digerakan oleh anak muda. Salah satu contohnya adalah Tenoon oleh Nicky Claraentia Pratiwi yang memberdayakan masyarakat difabel untuk memproduksi barang-barang berbahan dasar kain tenun.  

Kaum milenial sebagai kaum perubahan (agent of change) mempunyai peluang dan peran penting dalam menggerakan sociopreneurship di Indonesia. Kaum milenial berpeluang lebih karena karakter dirinya yang lebih kreatif dan inovatif dibandingkan pendahulunya. Cerdas dalam menemukan peluang atas masalah yang ada merupakan salah satu nilai lebih bagi kaum milenial. Selain itu, kaum milenial lebih andal atas perkembangan teknologi yang ada. Dengan adanya keahlian khusus dalam bidang teknologi, perancangan sociopreneurship akan lebih mudah dan lebih berdampak secara luas. 

Indonesia membutuhkan pemimpin yang tanggap akan masalah lingkungan dan sosial. “Masalah fundamental Indonesia saat ini adalah masalah humanisme,” tutur Rhenald Kasali salah satu guru besar di Indonesia. Sociopreneurship dapat menjadi media pengasah kepekaan sosial kaum milenial karena adanya keterlibatan pikiran dan hati dalam menjalankan bisnisnya. Indonesia butuh lebih dari sekadar pasukan pengedar nasi bungkus bagi orang pinggiran. Indonesia butuh gebrakan baru dengan impact jangka panjang. Pasukan penggerak kehidupan ekonomi berbasis sosial di Indonesia masih sebatas pada pemberian bantuan sosial yang berdampak secara jangka pendek saja. Pengambilan solusi jangka pendek yang dianggap sudah mujarab menandakan bahwa fokus pada pemberdayaan masyarakat masih sangat kurang. Jadi, Indonesia butuh kamu untuk terlibat secara langsung sebagai generasi sociopreneur.

No comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *